上大下和上人印尼巴淡弘法因緣
時年 2005,恩師大和上人於台灣授持三壇大戒,有一佛詮法師,乃師戒兄,與師提及關於東南亞印尼佛教;寺院甚多但出家眾少,於是建議上人到印尼弘法。
上人聽後弘願大發,決定遠渡印尼弘法,幫助有緣眾生,若能在印尼提倡佛法正道,普及教育,培養當地的孩童學佛,對該地佛法的興旺亦大有裨益。
上人之弘願,當時並不受人贊同,大家以印尼人多是巫族,落後艱辛為由,勸止上人赴印尼之行。
唯上人心意堅定,弘法利眾大願已發,刻不容緩。
2006 年,上人遠渡印尼巴淡,隨行者尚有比丘比丘尼各一。抵達巴淡後,一眾安單於農薩「佛緣寺」。
該寺地方偏僻,設備簡陋,水源不淨。未幾,隨同之兩位法師,見環境冷清,香火不繼,遂返台灣。臨行之際,勸上人也一同返台,惟上人意定,絲毫不為所動。
法師走後,上人每日凌晨三點起來,口中佛號不斷,身行三步一拜禮,自山下行拜至寺廟,風雨無阻,日日如是,勤懇不怠。
一日,上人拜至寺廟前,見門口放置一些蔬菜,泡麵,油及乾糧。此後,物品日日準時送到,從無間斷。唯不知是哪個善信送來。如此過了一段時日,終於見到一位老者阿伯頭頂蔬菜,手拎物品走進寺廟。經上人詢問,阿伯答因知上人獨自住寺,乏人照料,而毗鄰就是他的菜園,於是決定每日送些物資來供養師。
阿伯 – 遂成護持上人法身慧命的第一位大護法。
之後,信眾日增,與上人一同三步一拜。有信眾提議興辦兒童佛學班,至此每週日有老師以印尼文教導兒童佛學。緊接弟子規佛學班亦成立了,由李亞文老師教導。
第一屆佛學班雛型乃立。
至此,佛緣寺人潮不斷,各類活動也活躍起興:佛學班、共修、諷誦地藏經等等。 後有信眾提議上人搬往市區,以方便更多信眾往來。
因緣契合之下,上人離開了佛緣寺。
離開後,未幾上人即遇上一居士名留利大德。留利大德將他在Jodoh (卓多)一間店屋供養於上人做為道場。因年久失修髒亂,需要修葺。店屋周圍環境複雜,乃三教九流集聚之地,時有罪案發生。
上人對此不以為然,欣然接納。店屋修葺期間,上人往汕尾大伯公廟閉關修行。
一瞬三月,裝修完成。
上人之第一間道場遂之成立,名為「圓緣寺」。時年 2007。
又上人與大願地藏王菩薩,因緣極深,地藏菩薩之誓願修持,為上人楷模。故圓緣寺主修功課,訂為「地藏菩薩本願經」。道場第一次共修,即是諷誦「地藏菩薩本願經」。
圓緣寺緣起成立,乃由「地藏菩薩本願經」而來。
自此,地藏經成了道場主修功課。(已故) 謝崇堯居士為第一位助師誦經大德,當年謝居士風雨不改前來,諷誦地藏經無數部。
2011年,圓緣寺舉辦第一屆短期出家,參與戒子逾百。此參與人數對僅有三間店面積的Jodoh 圓緣寺而言,無疑非常狹窄。
上人當時心願:若能有一所大間,能容納二三百人之道場則更佳更完美。
不可思議之事發生了:
(已故) 蕭新鳳與義女陳美平大德,告知上人她們有一間五層樓高之大廈要布施與上人,作為道場,此道場面積恰可容兩三百人數。
諸如此類種種善巧安排,實乃菩薩冥冥之中,護持助上人修行道上,更為平順,更上一籌。
於是,第二間「圓緣寺」開幕了,人稱五層樓圓緣寺。是年為 2014。
VISI & MISI
Visi
Menjadi yayasan Buddhis yang berperan aktif dalam menuntun semua makhluk hidup menuju kehidupan yang harmonis, penuh welas asih, kebijaksanaan, dan kedamaian melalui praktik ajaran Buddha.
Misi
- Menyelenggarakan kebhaktian dan upacara Buddhis secara berkesinambungan sebagai sarana pembinaan spiritual dan penuntunan batin bagi umat.
- Melaksanakan kegiatan bakti sosial sebagai wujud nyata welas asih demi meningkatkan kesejahteraan dan keharmonisan masyarakat.
- Menyelenggarakan pendidikan dan pembinaan Dharma untuk mengembangkan, melestarikan, dan menanamkan ajaran Buddha kepada generasi masa kini dan mendatang.
Sejarah Penyebaran Dhamma di Batam YM Bhikkhu Da He
Perjalanan penyebaran Dharma di Batam, Indonesia, berawal dari tekad agung Y.M. Bhikkhu Da He. Pada tahun 2005, setelah Guru kami, Y.M. Bhikkhu Da He menerima Penahbisan Agung Tiga Tahap (三壇大戒) di Taiwan. Beliau memperoleh gambaran mengenai kondisi Buddhisme di Asia Tenggara, khususnya Indonesia yang banyak vihara, namun sangat sedikit umat monastik. Dari sinilah muncul tekad untuk datang ke Indonesia demi mneyebarkan Dharma dan membina masyarakat melalui nilai-nilai Buddha Dharma.
Meskipun tekat tersebut sempat diragukan oleh banyak pihak karena keterbatasan kondisi dan tantangan setempat, tekad beliau tetap teguh. Pada tahun selanjutnya, Y.M. Bhikkhu Da He tiba di Batam dan menetap sementara di vihara Fo Yuan (Fo Yuan Si), Nongsa. Meskipun lokasi vihara yang terpencil dan fasilitas yang sangat sederhana, beliau menjalani praktik spiritual dengan penuh ketekunan, termasuk praktik tiga langkah satu sujud setiap hari tanpa mengenal lelah. Pada masa awal tersebut, terjadilah sebuah kisah welas asih yang sederhana namun penuh makna. Suatu hari, Guru mendapati sayuran, mie instan, minyak, dan bahan makanan kering diletakkan di depan vihara. Barang-barang ini kemudian hadir setiap hari secara teratur tanpa pernah terputus. Beberapa waktu kemudian, tampak seorang kakek datang membawa hasil kebunnya dan bahan kebutuhan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa mengetahui Guru tinggal sendirian di vihara tanpa pendamping, sementara kebun sayurnya berada tepat di samping vihara. Atas dasar ketulusan dan welas asih, ia memutuskan untuk mempersembahkan hasil kebunnya setiap hari sebagai dana. Kisah ini dikenang sebagai awal dukungan umat, dan sang kakek dihormati sebagai pelindung Dharma pertama Guru.
Seiring berjalannya waktu, ketulusan dan keteguhan praktik Guru menyentuh hati masyarakat sekitar. Umat mulai berdatangan, mengikuti praktik bersama dan turut menjalani tiga langkah satu sujud. Dari pertemuan-pertemuan inilah terjalin jodoh kebajikan antara Guru dan umat. Atas inisiatif umat, kegiatan keagamaan mulai dirintis, termasuk pembacaan sutra serta pendirian kelas sekolah minggu Buddhis bagi anak-anak yang diajari oleh guru agama Buddha, disusul dengan pembinaan etika melalui kelas Di Zi Gui oleh Li Ya Wen.
Seiring meningkatnya jumlah umat, muncul usulan agar Guru melanjutkan penyebaran Dharma di kawasan yang lebih mudah dijangkau, sehingga semakin banyak umat dapat hadir dan berpartisipasi. Ketika jodoh kebajikan dan kondisi telah matang, Y.M. Bhikkhu Da He pun meninggalkan Vihara Fo Yuan (Fo Yuan Si) untuk melanjutkan perjalanan penyebaran Dharma.
Melalui jodoh kebajikan, Y.M. Bhikkhu Da He kemudian bertemu dengan umat awam bernama Liu li yang dengan tulus mempersembahkan sebuah ruko di kawasan Jodoh, Batam, untuk dijadikan sebagai tempat praktik dan penyebaran Dharma. Bangunan tersebut lama tidak terawat dan memerlukan renovasi. Lingkungan di sekitar pun cukup kompleks, dengan beragam aktivitas masyarakat. Namun Guru tidak memandang kondisi tersebut sebagai hambatan dan menerima dengan penuh rasa syukur.
selama proses renovasi berlangsung, Guru menjalani retret dan praktik tertutup di sebuah kelenteng di Tanjung Batu, Karimun, Kepulauan Riau, memusatkan diri pada latihan batin dan pendalaman Dharma. Setelah kurang lebih tiga bulan, renovasi pun selesai. Pada tahun 2007, berdirilah Vihara Bodhi Marga (圓緣寺) sebagai tempat praktik pertama Guru.
Karena jodoh yang sangat mendalam dengan Bodhisattva Ksitigarbha, Vihara Bodhi Marga menetapkan Sutra Ksitigarbha sebagai praktik utama. Alm. Xie Chong Yao dikenang sebagai asisten pembacaan sutra pertama yang senantiasa hadir dan telah membacakan sutra Ksitigarbha dalam jumlah yang tak terhitung, menjadi teladan kesungguhan praktik bagi umat.
Pada tahun 2011, Vihara Bodhi Marga menyelenggarakan Pabbajja dengan peserta lebih dari seratus orang. Perkembangan ini menandai pesatnya pertumbuhan kegiatan Dharma, sekaligus kebutuhan akan ruang yang lebih luas untuk menampung umat.
Melalui dukungan para dermawan dan bimbingan kebajikan, pada tahun 2014 sebuah gedung lima lantai dipersembahkan oleh Almh. Xiao Xin Feng beserta putri angkatnya, Ibu Santi kepada Guru sebagai tempat praktik Dharma kedua. Gedung tersebut tepat mampu menampung dua hingga tiga ratus orang yang sesuai dengan harapan Guru ketika melihat kondisi Vihara yang kurang mampu menampung banyak peserta. Dengan demikian, berdirilah Pusdiklat Bodhi Marga yang berfungsi sebagai pusat pelatihan dan pendidikan keagamaan.
Yayasan Bodhi Marga terus melanjutkan visi dan misi penyebaran Dharma dengan menjunjung tinggi nilai welas asih, kebijaksanaan, dan pengabdian, demi menciptakan keharmonisan dan kesejahteraan bagi semua makhluk.
Gallery

